Generalis yang Spesialis
- Kontekstualitas dengan Profesi Desainer Komunikasi Visual –
Oleh: Arwin PJ
Ketika menyematkan label desainer atau calon desainer Komunikasi Visual (Komvis), puluhan atau bahkan mungkin ribuan pertanyaan memberondong masuk kedalam ruang benak: Akan menjadi desainer yang seperti apa?
Bukan tidak mungkin, karena cakupan wilayah disiplin ilmu Desain Komunikasi Visual (DKV) begitu luas. Seorang calon desainer komvis seakan wajib membawa ‘peta’ untuk menemukan jalan keluar dari labirin DKV yang membingungkan. Dalam konteks ini, membingungkan bukan berarti menyesatkan. Karena menyesatkan berarti tidak ada orientasi. Sehingga, peta diperlukan dan sudah pasti telah dipersiapkan oleh institusi pendidikan terkait.
Disiplin DKV memungkinkan terurainya tali-tali kreativitas individu, dibentangkan untuk mengalirkan gagasan-gagasan kearah yang sesuai. Bukan membuatnya menjadi kusut. Dan tali-tali ini seyogianya akan dibawa menyusuri lorong-lorong labirin sebagai perantara arah keluar. Logikanya, tali kreativitas yang memuat gagasan akan dibawa serta ke ‘lorong’ manapun yang akan dituju seorang desainer.
Artinya, sebentuk ide yang dimiliki tidak akan hilang atau berkurang, akan terus terbawa dari “start”, diperkaya dengan ide-ide baru, sampai menemukan output yang tepat sebagai wadah ide tersebut, dan sebuah “achievement” yang pantas didapatkan, yang berarti “jalan keluar”.
Seorang generalis, yang dimaksudkan sebagai desainer yang memiliki berbagai potensi maupun mengerjakan berbagai karya desain (dalam standar tertentu), baik berupa grafis cetak atau multimedia, komunikasi massa (seperti iklan visual), maupun bentuk seni terapan yang dekat dengan seni murni seperti ilustrasi.
Komunikasi visual yang memuat kebutuhan komunikasi (penyampaian pesan) serta informasi dalam bentuk rupa (visual) memiliki kompleksitas untuk dijelajahi satu persatu.
Kehebatan seorang generalis adalah, ia cukup potensial untuk memasuki berbagai ranah DKV sebagai profesionalitas. Yang berarti, ia cukup “mumpuni” atau kompeten dalam setiap bidang DKV. Mungkin cukup “pas” jika diberikan predikat “adaptable-professionalist”. Semoga istilah ini cukup deskriptif.
Kekurangannya (untuk tidak menyebut kelemahan), personal branding-nya kabur atau samar-samar. Karena mem-branding diri alias ‘menjual diri’ memerlukan kualitas ‘dagangan’ yang kuat. Apa yang mau dijual? Seberapa bagus kualitasnya? Sepintar apa menawarkannya? Kemana harus ditawarkan? Yang notabene – supaya laku.
Disini, mungkinkah kita menemukan satu istilah lagi?
Potential-specialist, spesialis yang potensial.
Seorang spesialis lebih mengkhususkan mendalami bidang tertentu. Katakanlah, fokus pada satu bidang disiplin DKV. Menjadi seorang profesionalis atau bahkan idealis. Apalagi dengan kondisi dunia DKV yang rentan dengan perubahan sesuai perkembangan zaman.
Senjatanya? Seorang spesialis harus memiliki ‘ilmu bertahan’ atau ‘menyerang dengan kekuatan penuh’. Jelas, hal ini berhubungan dengan skill yang kuat, juga kecermatan memilih ‘lahan pertarungan’ dalam dunia komunikasi visual.
Jalan tengah?
Menjadi generalis yang spesialis. Dimaksudkan sebagai desainer (komvis) yang menguasai berbagai bidang ilmu DKV, juga memiliki suatu kekhususan (spesialisasi) sebagai identitas potensial personalnya.
Desainer dengan identitas ini menjadi adaptable, sekaligus memiliki brand-image atas potensinya. Sehingga, kompensasinya berupa eksistensi dalam dinamika dunia komunikasi visual.
Kembali pada pertanyaan: Akan menjadi desainer yang seperti apa?
Pertanyaan ini sesungguhnya merujuk pada motivasi calon desainer komvis, yaitu mahasiswa DKV.
Labirin menjadi metafora atas perjalanan studi yang berjenjang dan “njlimet”. Kalau boleh meminjam istilah “perguruan silat” dari seorang rekan dosen (pinjam ya, Pak Adi:)..) untuk mendeskripsikan tahapan pembelajaran, maka gagasan-gagasan yang dibawa dari satu lorong ke lorong lain dalam labirin studi DKV akan diuji secara bertahap sampai melekat dalam benak mahasiswa dan secara tidak langsung memperkaya potensi berikut khasanah ilmu DKV dari waktu ke waktu.
Permasalahan yang terjadi, seringkali mahasiswa masuk progdi DKV berbekal informasi seputar “popularitas” DKV, bukan “identitas” DKV. Sehingga, pada tahun-tahun awal, suasana akademikal DKV terasa kurang welcome.
Kemungkinan, disinilah mental mahasiswa teruji.
Mahasiswa yang telah mengenal DKV akan bersikap “enjoy aja”, mahasiswa yang pintar secara akademis akan berkata “no problemo”, mahasiswa yang fokus dan idealis akan menentukan langkahnya sendiri pada bidang DKV tertentu (“no comment”), mahasiswa yang percaya diri dengan potensinya akan ‘melahap’ seluruh materi yang diberikan secara maksimal (“yes, Sir!” katanya), sementara mahasiswa yang tidak tahan uji akan berujar, “well, I’m out”.
Masing-masing memiliki pilihan, dan masing-masing pilihan akan menghadirkan konsekuensi didepan, terkait profesi berikut komitmennya.
Observasi alakadarnya yang tidak berapa lama dari kacamata profesi tersebut menelurkan beberapa pertanyaan. Salah satunya adalah: Apakah ide tentang menjadi generalis yang spesialis mampu menjadi eksposisi atas opsi masa depan mahasiswa (secara personal).
Atau, jika memungkinkan, mahasiswa perlu diajak “gila” (“bagi ilmu lan ajar”, lagi-lagi meminjam tajuk suatu workshop), dalam rangka mengenali diri dan potensi, setapak demi setapak mengambil langkah untuk menjadi seorang komunikator visual generalis, spesialis, atau generalis yang spesialis.
Perlukah?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar