Tampilkan postingan dengan label dalam licentia poetica. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dalam licentia poetica. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Maret 2014

cerpen (semacam itu pokoknya..): Buku Ini Sekali Lagi Kosong

Buku Ini, Sekali Lagi, Kosong..


Buku itu masih ada di tangannya. Buku kecil selebar genggaman tangan, bersampul hijau kebiruan, sederhana, bergambar sketsa menara Eiffel Paris. Ah, melihatnya saja ia tiba-tiba jadi merasa romantis. Citra romantis itu tampaknya melekat padanya sejak ia dilahirkan, mungkin karena ia menyandang satu nama pemberian ibunya yang penuh mimpi.. Lintangsani, namanya Lintangsani.
Lintangsani - keluhuran pendar bintang, paling tidak sejauh itu sang ibu memaknainya.

Nduk, engkau adalah bintang yang berpendar entah saat kelahiran atau kejatuhannya.. Maka hidupmu akan menjadi lapisan-lapisan cahaya seiring gerak jiwamu yang sederhana.

Kalimat ibu terasa berat.
Ia tak bisa sepenuh memaknainya. Tapi setidaknya, lapisan-lapisan cahaya itu ia terjemahkan sebagai langkah-langkah kecil hidup yang kadang riang, kadang sendu, kadang meluap dalam amarah, kadang membentangkan kehampaan dalam benak. Dan disinilah, di buku inilah Lintangsani akan mulai menuliskan kisah langkah itu di setiap lembar kertas yang haus akan tinta dan cerita. Berniat.

Namun, lembaran itu masih saja sepi kata-kata. Lintangsani membiarkan kata-kata bermain-main dan berkelindan dalam kepalanya, kata beradu kata, kalimat memperebutkan estetika susunannya, dan makna..ah..dalam benaknya ia mulai kehilangan makna. Makna mulai tak selaras dengan kata hati, dan kata hati enggan beriringan dengan kata pikiran, rasionalitas. Kemudian gerak tangan tak menjadi kuasa untuk menampung refleksi makna meluncur pada goresan.
Ia sulit menulis. Sesederhana itu sebetulnya.
Walaupun saat ini di hadapan Lintangsani, laut tenang tanpa ombak mengalunkan musik tanpa suara. Capung liar melesat ringan menyusuri gerak angin, kadang singgah di pucuk semak. Mentari pagi menyentuh langit pucat yang masih berhiaskan purnama semalam. Warna pagi mulai memetakan bayangan manusia yang beberapa bercengkrama sayup di dermaga sederhana ini. Betapapun Lintangsani mencintai gunung menjulang, wajah laut terhampar tenang dan sederhana semacam ini membuatnya ingin mencintai laut juga. Tapi bukan tanpa alasan. Ia hidup dengan beberapa alasan. Alasan mencintai wajah laut ini karena cinta. Cinta padanya - seorang lelaki yang mencintai laut dan cakrawala. Keinginan bawahsadarnya untuk mensejajarkan diri dengan lelaki itu membuat ia mengabaikan kejujuran pada dirinya sendiri. Bahkan mengabaikan kejujuran pada gerak hatinya untuk mengungkap makna tertoreh tinta dalam wujud tulisan.
Buku itu kini hanya diam.

Buku yang telah bertahun dimiliki Lintangsani memiliki saingan.
Buku lain yang ‘tak ber-tubuh’ menemani Lintangsani melembarkan lapisan cahaya hidupnya dalam huruf-huruf yang keluar melalui sentuhan “tuts” keyboard. E-mail, chatting, sms berlarik-larik panjangnya telah menemani Lintangsani jauh lebih sering mengungkap makna daripada si buku Eiffel. Tapi Lintangsani mulai letih, letih menatap layar yang berkedip namun membisu, letih setiap huruf selalu serupa lekuknya, muak bahwa huruf tak memiliki kuasa ekspresinya lagi.
Berjuta-juta huruf telah ia ketikkan untuk menuansakan lapisan cahaya dalam kata, kalimat, frase dan paragraf. Juga ratusan judul; suka dan cita, duka, peristiwa, pelampiasan, dendam, doa entah kepada siapa, syukur dan permohonan ampun, bahkan hasrat yang menjadi rahasianya. Juga memori percintaannya dengan lelaki pecinta laut itu. Bercakap tanpa suara.
Ia mulai jenuh, ketika tulisan-tulisan digital itu mulai memiliki otoritas, meminta makna terus menerus. Dan ia harus memberikannya tanpa tahu arti makna itu. Ia mulai merasa mengkhianati diri melalui huruf-huruf yang arogan dalam media digital ini.
Lintangsani mengelus garis kerut yang terbentuk halus di keningnya, menggosoknya, seakan melicinkannya bisa membuat alur pikirnya melicin juga.
Sudahlah, pikirnya.
Kini ia menyadari betapa makna nama pemberian sang ibu mulai memberatkan, mengkonsep hidupnya terus menerus. Dan pada nama itu ia menyalahkan, bagian pembelaan dirinya.

Lintangsani menatap layar mini pada telepon genggamnya yang cerdas dan cerdik. Beringsut ke ujung dermaga, ia menyelami suasana dan keterikatan pribadinya pada benda ini. Disusurinya rangkaian-rangkaian kata dalam email, email dengan si lelaki pecinta laut, yang kepadanya lapisan cahaya itu ia bagikan. Judul demi judul terbaca habis.
Menekuri tulisan-tulisan itu lebih dalam, Lintangsani merasakan bahwa tulisan itu kemudian menjadi onggokan kata-kata saja, walaupun tetap berkisah. Karena itu hanya milik dirinya dan si lelaki. Hanya sekedar kisah, miliknya..dan miliknya. Teks-teks itu miliknya. Tidak pernah dimiliki orang lain, tak pernah menginspirasi selain dirinya dan si lelaki. Istimewa, namun terbatas. Lapisan cahaya yang dikiranya telah dimiliki dalam setiap tulisan, mulai berubah wujud hanya serupa dekorasi hidupnya.
Sebaris tulisan terbaca;
Sesuatu yang harus dikerjakan, kerjakanlah!

Lintangsani tersenyum.
Bukankah ini adalah satu kalimat di sebuah buku dongeng tipis di masa kecilnya? Di umur ke-sembilan atau ke-sepuluhnya. Ia mengingat judulnya yang terjemahan - “Fung Hsuen yang Cerdik”, sebuah dongeng dari negeri Cina, negeri yang sarat falsafah ketimuran. Fung Hsuen, pemuda yang dianggap bodoh oleh lingkungannya memiliki satu kalimat yang sering diucapkan: Sesuatu yang harus dikerjakan, kerjakanlah!
Ia lugu dan jujur. Tapi, ia berhasil meresapi hidup dengan satu kalimat sederhana itu, yang menurut Lintangsani adalah kejujuran yang berprinsip, memuat komitmen tinggi, dan optimistik. Sejak itulah, Lintangsani mengikuti falsafah Fung Hsuen, tokoh cerita fiksi yang berpengaruh dalam gerak Lintangsani menciptakan lapisan-lapisan cahaya hidupnya.
Ya, kenapa tidak? Bukankah inspirasi sekecil apapun akan membentuk alam pikiran kita? Entah buku tipis, entah buku tebal, entah tulisan panjang, entah tulisan sebaris, entah dalam buku, entah dalam teks digital, entah sederhana maupun ‘berat’, entah ‘kosong’, entah ‘berisi’. Semua mengekspresikan maknanya sendiri, tulisan-tulisan itu. Bahkan tulisannya dengan si lelaki pecinta laut. Bukankah makna-makna itu berkumpul memenuhi ruang pikirnya? Menentukan apa yang harus dilakukan, yang mungkin saja telah membentuk kejujuran itu sendiri tanpa ia sadari.
Pandangan Lintangsani mulai mengabur, entah karena silau sinar mentari pagi membutakan matanya atau karena bayangan tentang “makna” itu berdesakan berkumpul di batas pandangnya.
Sudahlah, tak serumit itu, pikirnya. Ia selalu berkontradiksi dengan seluruh pemahamannya akan sesuatu.

Bayangan berikutnya yang muncul setelah bayangan makna itu pergi berupa bayangan buku kosong yang selalu siap terisi imaji. Kosong untuk selalu diisi. Konsep lembaran kosong yang mendamba torehan-torehan makna. Yang mengawali setiap cerita, yang menengahi konflik, yang mengakhiri dengan inspirasi baru. Adakah buku seperti itu?

Lintangsani menatap buku Eiffel itu, lebih lama daripada biasanya. Kali ini ia terserang romantisme aneh. Rasa cinta yang mendadak muncul. Spontanitas yang paling jujur. Sementara ia tak pernah mengerti definisi cinta. Tapi ia cinta, sesederhana itu saja. Tak harus mengerti alasan ia jatuh kedalamnya. Tak juga kepada lelaki pencinta laut itu.. dan sayangnya Lintangsani juga tak mengerti kenapa ia harus melibatkan tulisannya dengan si lelaki itu ke wilayah makna-memaknai ini. Karena mungkin setiap makna tak bisa dimaknai secara terpisah, makna satu dengan makna lain, pemahaman satu orang dengan pemahaman orang lain, dan hubungan diantaranya. Keterikatan tanpa hubungan fisik, mungkin seperti itu. Mungkin, karena ia hanya bercakap dalam tulisan dan makna dengan lelaki itu, dan memahami bahwa setiap makna bisa menjadi sangat istimewa, entah tertulis atau belum tertuliskan. Tak perlu bicara. Dan tak usah bicarakan lagi. Kita masing-masing sudah tahu. Hanya kau dan aku.


Dan kemudian Lintangsani berusaha memahami kenapa ia sulit menorehkan makna kedalam buku Eiffel ini. Ya, karena ia jatuh cinta. Dan itu cukup memberi ia pengertian bahwa cinta tak terberi dan tak diberikan. Cukup hadir dan ada. Buku ini tak perlu diisi kata-kata, karena ia telah mampu berkata-kata dalam maknanya sendiri. Buku ini memaknai cinta pada diri Lintangsani. Dan itu lebih bermakna dalam daripada yang akan tertuliskan.

Buku bersampul biru-kehijauan serupa laut ini, yang bergambar sketsa menara Eiffel Paris, yang selebar genggaman tangan… sekali lagi, kosong.


Disamping petak jendela..menunggui sahabat yang tertidur pulas dan (katanya) bermimpi tentang asmara..
Semarang, 3 November 2013
-Arwin Pattrasani-

* termuat dalam kompilasi "Bunda Kata" 
*adakah copyright-nya? semoga tidak salah memuatnya disini :)




cerpen: Kerikil dan Kerikil


Sekali lagi.. fragmen cerpen yang masih bisa berlanjut :)

Kerikil dan Kerikil  
(Pattrasani - Jogja, 16 Okt dan 6 Nov 2013)

Saat itu senja belum lagi memuram.
Langit bersih dari awan, jalanan sedang memulai aktivitas malamnya. Ya, kota ini hidup di waktu malam. Malam-malam kota ini adalah cengkerama bagi sebagian besar masyarakatnya, yang tua yang muda, bahkan menulari para pendatang yang sekedar singgah menjadi lekat untuk mereguk nikmat candu nafas kota, bertahun-tahun tak berkesudahan.
Kota ini seperti punya jampi dan mantra untuk membuat manusia melekat pada kesederhanaan hidup, penyadaran diri dan penyembuhan luka batin.
Mama termenung di pinggir jalan, diatas sepeda motornya yang berderum datar. Liuk jalan menggapai kesedihannya, mengundang melambai mengajaknya mengarungi lagi petualangan jalan aspal. Tapi tidak, Mama hanya sanggup menatap lapangan berumput tandus didepannya, yang penuh kerikil kecil. Senja dan angin petang tampaknya tak lagi membuatnya bergairah. Remang lampu jalanan kuning dan punggung jembatan layang yang selalu membuatnya merindu angin tak mampu merengkuh hasratnya untuk bercinta dengan kehidupan.
Ia hanya menatap kerikil-kerikil itu.
Tangannya terulur.
Satu, diambilnya satu kerikil abu-abu gelap berdebu. Jemarinya mengusap sedikit debu yang menempel di batu. Dari matanya, tersirat jelas isi kepalanya bekerja berputar, namun tanpa koordinasi yang baik. Matanya kemudian hanya sekedar memandang si kerikil mungil.
Dua, kerikil kedua dari lapangan telah diambilnya, abu-abu pucat. Tangan mama menyusuri pinggang jaketnya, ada kantong disitu. Kedua kerikil meluncur masuk kedalamnya.
Tiga, empat, lima, enam, tujuh, …pada kerikil ketujuh ia berhenti. Sungguh menyakitkan mengingat angka tujuh yang sangat ia cintai.
Delapan, Sembilan,..seterusnya ia masukkan kerikil-kerikil itu ke kantongnya..satu persatu. Memasukkannya satu persatu membuat Mama menangguhkan waktu, membuatnya punya alas an berdiri berlama-lama di lapangan yang mulai gelap oleh ungu petang.
Sekarang waktunya mencari sungai, yang dalam dan tenang, yang berair dingin dan jika bisa..berwarna hitam.
Suatu waktu, ia pernah menonton film “The Hours”, kisah tentang tiga waktu, tiga perempuan: sang penulis, sang pembaca, dan seorang editor - dianggap sang tokoh cerita dalam buku, Mrs. Dalloway. Ini tentang hubungan kehidupan dan waktu diantaranya, serta karya sastra yang bisa mempengaruhi. Kisahnya diawali tentang seorang perempuan-sang penulis bernama Virginia yang berjalan menuju sungai besar. Si gadis memasukkan batu ke kantong mantel panjangnya, lalu turun perlahan ke sungai, berusaha menenggelamkan diri. Ia mempertanyakan kematian dan filsofi tentang kehidupan, juga cinta dan hubungan, terkait dengan hasratnya yang besar untuk menulis cerita yang sempurna.
Mama pikir, konyol sekali. Betapa hidup terlalu berharga untuk dikorbankan sebelum waktunya. Mama seringkali berpikir bahwa persoalan hidup tak ubahnya daun kering, melayang di jalan berangin, mudah dilangkahi ketika telah terhempas ke tanah.
Ternyata tak semua semudah yang dipikirkan, yang dikonsepkan bertahun.
Ia ingin tenggelam.
Dan film itu sungguh menginspirasinya, walau konyol. Ia lupa bahwa film seringkali adalah refleksi kehidupan yang tak sempat tersampaikan dalam realitas.
Tenggelam…ia ingin tenggelam…
Di benaknya, akal sehat dan kekalutan bergelut sengit. Ia benci kekonyolan konsep penenggelaman diri ini, tapi sulit sekali untuk keluar dari cengkeraman kekalutan yang merangsek ke batas akal sehatnya.
Ia tahu, tenggelam itu hanya simbol pelepasan tanggungjawabnya terhadap realita. Tak seorangpun akan memahami rahasia yang ia bekap rapat. Tak ada dan tak perlu mengajak orang lain bicara tentang ini, karena merasakan adalah otoritasnya. Orang lain yang menerima ceritanya hanya menangkap pantulannya saja, tidak benar-benar bisa merasakan. Bukankah semuanya begitu..?
Sungguhpun ia tak ingin dramatis, ia menyesali satu pagi awal kebersamaan dengan Papa.
Papa.. yang mencintainya sangat, selalu, dalam kata mesra tak tertolak.
Papa, yang menciumnya dalam keremangan pagi buta di antara liuk jalan perbukitan dan kilau cahaya kota, yang mencumbunya di muka laut dan didepan para tukang perahu sederhana, yang menggenggam tangannya dalam setiap remang malam dimanapun mereka menemukan petualangan berdua.
Papa, yang aroma lehernya menyisakan candu kerinduan, yang juga merindunya di kala berdampingan.
Papa, yang kepadanya ia berikan kendali atas perasaannya, hari-harinya, gerak tubuhnya.
Papa, yang … oh papa.. yang hanya kepadanya ia merasakan kebencian sekaligus cinta yang dalam.
Papa miliknya, dan juga… ah, betapa sakitnya mengucap yang tak terkatakan.
Papa tak pernah benar-benar pergi dari Mama, tapi Papa telah kehilangan suara dan sapanya yang berhasrat. Setidaknya beberapa bulan sebelum ia pergi melintas lautan yang dicintainya.
#
Menggenggam kerikil di kantong jaketnya, Mama mengingat malam terakhirnya bersama Papa.
Di satu hotel klasik yang nyaman di pinggir kota kecil. Malam begitu tenang bersiap menguping peristiwa selirih apapun dalam kehidupan mereka, terutama Mama.
Mama telah di kamar, bersama televisi yang menyala, seprai linen putih yang nyaman, secangkir teh mengepul untuk Papa, dan rindu yang tak jelas bentuknya. Perasaannya sangat tenang, namun justru ketenangan itu berusaha menipu kegelisahannya. Papa berjanji datang.
Dua jam berlalu.
Dan mama baru saja mengantar kepergian papa di pintu kamar, setelah berpelukan sekedarnya. Pelukan terakhir mereka.  Malam masih menguping, meskipun kini hanya suara nafas lirih Mama yang terdengar. Mama sudah tak mampu lagi berkata.
Papa pergi dari Mama.
Entah hanya tubuhnya, entah hatinya ikut serta.
##
Saku Mama melorot keberatan kerikil yang berjejalan didalamnya. Ah, hatinya juga melorot. Ia sedih mengingat kembali pertemuannya dengan Papa di malam terakhir mereka itu.  Dan ia mulai mempertanyakan hatinya, yang kini datar. Ia tak ingin kehilangan Papa, namun juga tak mau mempertahankannya lebih lama dari batas kemampuannya. Ia tahu bahwa ruang untuk Papa dalam jiwanya telah banyak merenggut ruang-ruang lain yang selama ini milik hasrat pribadinya bergempita dalam hidup. Ia hanya inginkan keseimbangan dalam jiwanya.
Mama melangkah gontai menuju ke sepeda motor yang setia menungguinya di pinggir jalan. Berat kerikil di sakunya membebani langkahnya. Tak nyaman berjalan dengan beban.
Ia memutuskan membuang seluruh kerikilnya, tanpa sisa. Kekonyolan ini harus diselesaikan. Paling tidak, diganti dengan kekonyolan-kekonyolan lain yang lebih memuaskan hatinya. Astaga, Mama!
Hari-hari berikutnya adalah hari pencarian makna cinta dan hidup bagi Mama, menurut pendapatnya.
Kota ini tak lagi memberikan kenyamanan baginya. Tak juga keramahan manusianya.
Hari-hari terkurung bersama dirinya dalam kamar petak sembilan meter persegi. Musik yang mengalun setiap pagi tak lagi mampu memenuhi jiwanya dengan irama. Belasan film ia tonton dalam ruang gelap bioskop hanya mampu memberikan ruang kesendiriannya, saat adegan demi adegan yang mempertontonkan ‘kemanusiawian’ berganti, dengan otorisasi sutradara. Lagi-lagi manusia.
Ia tak mampu makan, tak mampu tidur, hanya mampu memejamkan mata dan membungkam kata-kata meluncur melalui bibirnya. Tapi ini bukan meditasi.
Mama pergi ke perpustakaan universitas tertua di kota ini. Legalah hatinya, ratusan buku yang terpajang pada rak-rak kayu tua tampak ramah seolah mengerti kebutuhan batinnya. Mata Mama terpuaskan merasakan tenangnya ruangan buku ini, ia seakan tertemani, sebenarnya kesunyian jiwanya yang merasa tertemani. Ia duduk, mengamati sejenak lelaki dan perempuan disekitarnya, semua berwajah serius, tapi memiliki titik-titik tertentu di sudut pikiran mereka tentang arti kunjungan ke perpustakaan ini. Hmm, mereka pun individualitas yang menarik hati.
Ruang baca itu hanya mampu menemani selama dua hari.
Mama mencari persemayaman yang lain.
Kafe? Sudah lama ruang eksklusif itu tak memuaskan seleranya untuk mendapatkan ruang privasi. Bercangkir-cangkir kopi aneka rasa telah ia cecap dari belasan atau mungkin puluhan kafe. Yang paling sederhana maupun yang paling eksklusif. Apakah Mama inginkan citra? Tidak! Ia menginginkan ruang yang mampu menerima dia sepenuhnya. Entah kafe kota, entah angkringan desa. Menerima kegelisahannya, disini, dalam pikirannya tentang Papa. Ini bukan lagi persoalan cinta, tapi ruang jiwanya yang harus dikembalikan, utuh.
Apakah perlu lagi ke toko buku? Memuaskan dahaga dompetnya untuk buku-buku yang selalu tak selesai terbaca? Membeli dengan sia-sia lagi? Memandang wajah buku pun tak menarik minat Mama untuk menyibaknya sampai ke jantung cerita.
Mama memutuskan pergi dari kota ini.
Apa yang ingin dia lakukan, apa yang terbersit dengan segera di benaknya, harus segera dilakukan. Ini cara untuk mengatasi kelemahan dirinya. Segera dan harus segera!
Ia mengingat kerikil kecil dalam kantong yang dulu telah ia buang. Mengingat bahwa masa kecilnya ia selalu suka mengumpulkan bebatuan, mengapa tidak ia pergi ke tempat dimana ia akan menemukan banyak batuan? Atau gundukan-gundukan tanah yang baginya menghadirkan wajah sang bumi? Oh, Ibu Bumi…mungkinkah engkau yang akan membasuh jiwa ini..?
Suatu pagi yang terencana dengan singkat, berdirilah Mama disamping rel kereta lajur 4 stasiun terbesar kota itu. Satu gerbong untuknya menanti, kursi terdepan telah bersiap diduduki. Kereta ini menuju ke satu kota di Jawa Timur. Disanalah ia akan menuju.
Ke gunung dengan panorama paling elok yang pernah ia lihat.
Bagi Mama, inilah kerikil besar yang semoga bisa mengokohkan tapak kakinya, dan menguatkan nafasnya.

O Ibu Bumi..
Peluk dan basuh wajah anakmu ini dengan debu hangatmu!
Topanglah tapak-tapak langkahnya saat ia mendaki gurat-gurat sang hidup
Undanglah mereka, sang angin malam dan kelam langit, untuk bersaksi bersama bintang-bintang
Tentang dia.. tentang nafasnya yang terserak di norma semesta
Ratakanlah, ratakanlah serupa wajah bumimu yang selalu teduh sayu..

 (masih bersambung...)





Kamis, 22 Maret 2012

(Menunggu Esok untuk Tiga Jam Milikku Sendiri)


Tiga jam..
Aku merindukan kaca-kacamu bergeming..
Dan menunggu butir-butir tetes hujan berdenting..
Hanya untuk mencari celah hatimu yang aku tak tahu
Hari ini biarlah menjadi agung dan bangku ini menanti dengan pasti
Aku akan rindu damaimu
Bukan rahasiamu yang kelu
Menunggu tiga jam di sudut ini memberi kepastian
Dan biarlah angin mengantar kenangan itu padamu
Dan ijinkanlah desau dedaunan itu menoreh masa lalu
Yang untuk tiga jam ini saja kudapatkan
Pergilah..
Maka pergilah sayangku..

Pattrasani - 22 Maret 2012

Rabu, 14 Desember 2011

Gadis Belia dan Gitar Kecilnya


Mengingat tentangmu, wahai gadis muda... 
Kauserahkan tarikan nafasmu pada debu dan angin jalan yang panas.. 
tak peduli siang begitu kejam, malam begitu panjang untuk kau duduk diam dan merenungi setiap butir nasi pada dapurmu.. 
Hanya menginginkan anakmu dapat susu, dan waktu yang kaumiliki tak terbuang percuma. 
Kau hanya inginkan kehidupan, bukan bakat yang tersia-siakan.
Untukmu, di sudut manapun kota itu..


- memoar tentang seorang gadis belia di satu titik keramaian Jogja Utara (Pattrasani, 2007) -

Minggu, 20 November 2011

Cerita Kami yang Tertunda


Sesungguhnya kami hanyalah segerombolan orang bodoh.

Atau mungkin juga sekumpulan kerbau dalam kubangan, bersenang-senang dan menikmati tatapan penuh kekaguman lalat-lalat bermata lebar.
Seakan kami ini matahari dalam galaksi Bima Sakti.


Setiap pagi kulewati jalan layang yang melintang ditengah kota. Bagiku jalan itu lebih mirip jalan yang melengkung karena memuai, seperti sol sepatu yang terlalu sering terpanggang matahari dan tersiram hujan. Tapi melewati jalan itu dengan motor membuatku serasa terbang, menikmati desiran halus di jantungku ketika angin menggelitik bulu-bulu halus kulit tubuhku yang terbuka.
Menjelang lengkungan jalan layang, aku menanti langit yang sekonyong-konyong muncul dari balik lengkung. Dan desiran pelan itu mulai berubah menjadi dentuman berirama cepat seakan dibalik lengkungan hanya terdapat kekosongan, tak bertepi, seperti bayangan ujung dunia di masa lalu. Uh, aku rindu!
Setiap kendaraan yang lewat seakan diburu waktu mengejar jeda sementara matahari bergulir perlahan ke barat. Begitu terus setiap hari. Selongsong kehidupan dieksploitasi dengan rakus.
Meluncur, dan meluncur lagi. Kubiarkan tangan kananku merenggang menggenggam gas tangan. Kuikatkan energiku disitu. Setiap mesin memiliki kehidupan sendiri. Memiliki hak atas perubahan yang serupa dengan kehidupan makhluk hidup. Dirakit, berfungsi, berkarat dan hancur.
Karena itu aku cinta setiap kehidupan.

Seperti kehidupan enam kerbau berpolah didepanku saat ini. Sungguh mati aku cinta mereka! Dan aku melengkapi mereka menjadi tujuh.

Sesungguhnya kami ini hanyalah segerombolan orang bodoh, tepatnya tujuh kerbau bodoh dalam kandang sempit di padang rumput yang luas. Kusebut bodoh, karena diluar kandang, rumput hijau segar menggeliat menggoda dan kami lebih memilih mengunyah rumput lunglai berlumpur dibawah kaki kami, berebutan. Dan tak satupun berpikir akan menerjang pembatas kandang seperti Kartini melahirkan emansipasi wanita di negeri kita.
Kami sungguh-sungguh bodoh atau terlalu sabar menerima apa yang ada? Beda tipis yang tak mengundang simpati. Kecuali, lalat-lalat yang menatap dengan penuh kekaguman. Itu cerita nanti.

*******

Kami sedang berdiri di tepi pantai. Pantai selatan pulau Jawa. Pantai selatan yang kata orang dikuasai sesosok ratu luar biasa cantik dan sakti. Pantai selatan dengan misteri tak terjamah dan panorama erotis yang impresif.
Sudah satu jam sejak kami tiba disana. Beberapa kapal teronggok tak berdaya, berselimut jala ikan dan pelampung oranye pemiliknya, para nelayan yang sedang menyeruput teh manis hangat dalam keremangan warung bambu renta. Gubuk yang berjajar rapat menantang angin laut.
            Sejenak aku menatap matahari dalam ketenggelamannya seakan seniman yang berusaha meraba keindahan. Namun, bahkan keindahan pun aku tak tahu. Mungkin aku tak berbakat menjadi seniman. Yang kupikirkan, mengapa matahari terlihat membesar di ujung malam tapi kehilangan sinarnya yang menyilaukan? Seperti setiap manusia mulai merasakan arti hidupnya di ujung usia. Yang kita miliki tinggal raga, tubuh tanpa rona hidup. Kepompong tanpa isi.
            Limas melintas didepanku. Berlari dan tertawa lepas yang ia tawarkan dengan sederhana. Alin si gadis mungil berlari mengejarnya, berusaha mencambukkan scarf pink-nya. Tertawa juga. Hmm, romantisme dekade 80-an.
            “Mas! Berikan kameranya! Hapus yang barusan! Jelek, tau!” jerit Alin. Tapi tawanya memperlambat larinya. Seperti kebahagiaan memperlambat rasa akan kematian.
            Kulemparkan pasir pada mereka berdua. Kutunjukkan bahwa mereka telah menarik perhatianku, juga sedikit rasa iri. Dan aku kembali menapakkan jejak-jejak dalam pasir. Menuju matahari. Didepanku, dua anak manusia menyisir pantai dengan cengkerama yang terlihat membahagiakan keduanya. Trisno dan Nanjani.
            Trisno dan Nanjani.
            Butuh waktu untuk memikirkan hubungan mereka berdua. Dan aku tak perlu bersusah-susah, karena pastinya aku tak ada diantara mereka. Jadi, kuanggap saja hubungan itu cinta. Ya, cinta atau asmara! Itu saja. 
            Namun, tak ada cinta asmara diantara Satya dan Dinasty. Bukan saja karena mereka sama-sama lelaki, tapi karena mereka tak tergiur menganut paham hubungan sesama jenis. Kedekatan mereka seperti hubungan dua kutub magnet yang berlawanan. Satya adalah seniman murni. Hidupnya beraliran putih dalam pengertian umum, dekat dengan sang Pencipta. Dinasty adalah seorang rocker sejati beraliran blackmetal. Melihatnya seperti melihat malam tanpa bintang, kelam. Menatap matanya seperti menatap lubang kegelapan, dalam dan terasa dekat dengan maut. Penganut ekstrimitas yang tanpa nalar.
            Dua kutub magnet itu duduk di gundukan pasir tinggi, namun berbicara rendah tersamarkan bisikan angin laut. Mungkin membicarakan dunia hitam-putih mereka. Aku tak tahu.
            Aku adalah angka ganjil pada ujung jumlah ganjil. Satu-satunya yang tak berpasangan. Seperti sosok Bima yang berjalan sendirian diakhir barisan Pandawa, menatap saudara-saudaranya saling berpasangan.
            Dan namaku Lintangsani.


*******
Sewon - Jum’at, 13 Februari 2009

Jumat, 14 Oktober 2011

JENUH 2 - hidup adalah perjalanan


Hidup adalah perjalanan…
Dan hidup adalah goresan tinta hitam diatas kertas
yang warnanya memudar dari hari ke hari… segores demi segores…
..digoreskan setiap kita menapak

Perjalanan selalu dimulai dengan langkah kaki,
dan mata yang memandang ke sudut mana pandangan itu diarahkan
satu tempat
satu ruang
satu kondisi
..dalam suatu waktu

mimpi ‘lah kompas, pemandu arah hidup
tak perlu membawa apapun
karena bekal yang sesungguhnya adalah pikiran dan mata hati
cukup menggenggam apa yang menjadi nafasmu
dan kuatkan kakimu
karena kita akan melangkah jauh

bukan mimpi yang dikejar,
karena mimpi berjalan beriringan dengan setiap kaki menapak

hiduplah yang harus dikejar


Pattrasani, 22 Desember 2008