Minggu, 20 November 2011

Cerita Kami yang Tertunda


Sesungguhnya kami hanyalah segerombolan orang bodoh.

Atau mungkin juga sekumpulan kerbau dalam kubangan, bersenang-senang dan menikmati tatapan penuh kekaguman lalat-lalat bermata lebar.
Seakan kami ini matahari dalam galaksi Bima Sakti.


Setiap pagi kulewati jalan layang yang melintang ditengah kota. Bagiku jalan itu lebih mirip jalan yang melengkung karena memuai, seperti sol sepatu yang terlalu sering terpanggang matahari dan tersiram hujan. Tapi melewati jalan itu dengan motor membuatku serasa terbang, menikmati desiran halus di jantungku ketika angin menggelitik bulu-bulu halus kulit tubuhku yang terbuka.
Menjelang lengkungan jalan layang, aku menanti langit yang sekonyong-konyong muncul dari balik lengkung. Dan desiran pelan itu mulai berubah menjadi dentuman berirama cepat seakan dibalik lengkungan hanya terdapat kekosongan, tak bertepi, seperti bayangan ujung dunia di masa lalu. Uh, aku rindu!
Setiap kendaraan yang lewat seakan diburu waktu mengejar jeda sementara matahari bergulir perlahan ke barat. Begitu terus setiap hari. Selongsong kehidupan dieksploitasi dengan rakus.
Meluncur, dan meluncur lagi. Kubiarkan tangan kananku merenggang menggenggam gas tangan. Kuikatkan energiku disitu. Setiap mesin memiliki kehidupan sendiri. Memiliki hak atas perubahan yang serupa dengan kehidupan makhluk hidup. Dirakit, berfungsi, berkarat dan hancur.
Karena itu aku cinta setiap kehidupan.

Seperti kehidupan enam kerbau berpolah didepanku saat ini. Sungguh mati aku cinta mereka! Dan aku melengkapi mereka menjadi tujuh.

Sesungguhnya kami ini hanyalah segerombolan orang bodoh, tepatnya tujuh kerbau bodoh dalam kandang sempit di padang rumput yang luas. Kusebut bodoh, karena diluar kandang, rumput hijau segar menggeliat menggoda dan kami lebih memilih mengunyah rumput lunglai berlumpur dibawah kaki kami, berebutan. Dan tak satupun berpikir akan menerjang pembatas kandang seperti Kartini melahirkan emansipasi wanita di negeri kita.
Kami sungguh-sungguh bodoh atau terlalu sabar menerima apa yang ada? Beda tipis yang tak mengundang simpati. Kecuali, lalat-lalat yang menatap dengan penuh kekaguman. Itu cerita nanti.

*******

Kami sedang berdiri di tepi pantai. Pantai selatan pulau Jawa. Pantai selatan yang kata orang dikuasai sesosok ratu luar biasa cantik dan sakti. Pantai selatan dengan misteri tak terjamah dan panorama erotis yang impresif.
Sudah satu jam sejak kami tiba disana. Beberapa kapal teronggok tak berdaya, berselimut jala ikan dan pelampung oranye pemiliknya, para nelayan yang sedang menyeruput teh manis hangat dalam keremangan warung bambu renta. Gubuk yang berjajar rapat menantang angin laut.
            Sejenak aku menatap matahari dalam ketenggelamannya seakan seniman yang berusaha meraba keindahan. Namun, bahkan keindahan pun aku tak tahu. Mungkin aku tak berbakat menjadi seniman. Yang kupikirkan, mengapa matahari terlihat membesar di ujung malam tapi kehilangan sinarnya yang menyilaukan? Seperti setiap manusia mulai merasakan arti hidupnya di ujung usia. Yang kita miliki tinggal raga, tubuh tanpa rona hidup. Kepompong tanpa isi.
            Limas melintas didepanku. Berlari dan tertawa lepas yang ia tawarkan dengan sederhana. Alin si gadis mungil berlari mengejarnya, berusaha mencambukkan scarf pink-nya. Tertawa juga. Hmm, romantisme dekade 80-an.
            “Mas! Berikan kameranya! Hapus yang barusan! Jelek, tau!” jerit Alin. Tapi tawanya memperlambat larinya. Seperti kebahagiaan memperlambat rasa akan kematian.
            Kulemparkan pasir pada mereka berdua. Kutunjukkan bahwa mereka telah menarik perhatianku, juga sedikit rasa iri. Dan aku kembali menapakkan jejak-jejak dalam pasir. Menuju matahari. Didepanku, dua anak manusia menyisir pantai dengan cengkerama yang terlihat membahagiakan keduanya. Trisno dan Nanjani.
            Trisno dan Nanjani.
            Butuh waktu untuk memikirkan hubungan mereka berdua. Dan aku tak perlu bersusah-susah, karena pastinya aku tak ada diantara mereka. Jadi, kuanggap saja hubungan itu cinta. Ya, cinta atau asmara! Itu saja. 
            Namun, tak ada cinta asmara diantara Satya dan Dinasty. Bukan saja karena mereka sama-sama lelaki, tapi karena mereka tak tergiur menganut paham hubungan sesama jenis. Kedekatan mereka seperti hubungan dua kutub magnet yang berlawanan. Satya adalah seniman murni. Hidupnya beraliran putih dalam pengertian umum, dekat dengan sang Pencipta. Dinasty adalah seorang rocker sejati beraliran blackmetal. Melihatnya seperti melihat malam tanpa bintang, kelam. Menatap matanya seperti menatap lubang kegelapan, dalam dan terasa dekat dengan maut. Penganut ekstrimitas yang tanpa nalar.
            Dua kutub magnet itu duduk di gundukan pasir tinggi, namun berbicara rendah tersamarkan bisikan angin laut. Mungkin membicarakan dunia hitam-putih mereka. Aku tak tahu.
            Aku adalah angka ganjil pada ujung jumlah ganjil. Satu-satunya yang tak berpasangan. Seperti sosok Bima yang berjalan sendirian diakhir barisan Pandawa, menatap saudara-saudaranya saling berpasangan.
            Dan namaku Lintangsani.


*******
Sewon - Jum’at, 13 Februari 2009

3 komentar:

  1. ini menarik mbun,teruskannn!! apa yg terjadi pd lintangsani?? ^^'

    BalasHapus
  2. LintangSani....pattrasani......ku tunggu kisah selanjutnya....

    BalasHapus
  3. Jangan lupa, Kawan.. ini hanya fiktif inspiratif lho....:D Tidak dikaitkan dengan kisah yg sebenarnya..hehe

    BalasHapus