Hidup ini pinjaman..
Kadang, saat merasa bosan, tidak puas terhadap kehidupan, kita begitu ingin mengembalikannya.
Namun, mungkin kita telah dibekali kerangka paragraf untuk merangkai plot cerita kehidupan milik kita sendiri. Kadang kita mengabaikan kerangka itu karena tak pernah sabar dengan klimaks kisah kita.
Hidup itu seringkali serupa barang yang kita sukai, tak ingin melepas walaupun barang itu telah koyak..merasa barang itu yang terbaik milik kita, padahal kita punya banyak barang yang serupa. Masalahnya, cinta dan barang itu berusia sama. Tak rela, bahkan ketika orang pemberi barang itu yang memintanya kembali.
Kemudian kita akan menyesali waktu-waktu yang pernah lekat bersamanya.
Nyawa adalah pertaruhan
Ukuran untuk mengerjakan suatu perbuatan. Kita mengumpulkan poin-poin untuk saling dipertukarkan pada saatnya. Poin angka lebih dan angka kurang. Yang lebih akan menutupi yang kurang. Keseimbangan.
Kesenangan mungkin adalah angka kurang.
Penderitaan bisa jadi angka lebih.
Kembali pada pilihan. Walaupun secara naif kita berusaha mengerti yang sebaiknya. Tinggal tunggu akhirnya saja.
C’est la vie.. itulah hidup. Tak terduga.
Kemarin pagi..
Aku terjaga dengan suara ketukan di pintu. Mataku masih berat. Bayang-bayang sinar mentari pagi yang tak sanggup menembus korden membuatku merasa masih bermimpi.
Ternyata pintu terketuk lagi, lebih keras.
Kujumpai wajah bulat sendu menjelma dibalik pintu kamar kosku. Suara gadis itu bergetar ketika menyampaikan keinginannya. Memohon bantuanku.
Mengantarnya ke bandara demi menemui ayah yang sedang sakit.
Hatiku tak kuasa menolak, badanku memberontak. Aku sangat lelah, tak hanya fisik. Berminggu-minggu aku terbebani kejenuhan yang amat sangat, pengabaian idealisme demi sepotong tanggungjawab moral yang kurasa mulai setengah hati kugenggam.
Aku hanya mau bergerak sesuai keinginanku dulu. Aku sedang tak mau diganggu. Aku sedang sangat egois, melankolis, dan individualis.
Aku enggan meninggalkan kamar, memberi beberapa alasan. Namun hatiku rapuh, karena dalam hitungan kata kemudian aku berkata bersedia membantunya. Aku juga tak ingin mementingkan diri sendiri. Aku naif. Atau munafik? Beda tipis.
Aku mengiyakan dan menutup pintu kamar. Kembali merebah, menyusuri sisa-sisa mimpi. Tak sampai sepuluh menit, kudengar raungan memilukan dari lantai bawah kamarku.
Kupikir itu tawa. Awalnya.
Namun, aku bisa menduga apa yang sebenarnya terjadi. Kami tak jadi ke bandara.
Ayahnya meninggal dunia.
Ya Tuhan, aku tak berdoa tentang ini.
Aku tak berharap yang terburuk sehingga membatalkan kepergian kami ke bandara. Tapi benarkah alam menangkap energiku? Mungkin. Karena setengah keinginanku dikabulkan. Tuhan mungkin memudahkan masalahku. Aku bisa saja bersyukur..namun dengan pahit. Aku merasa marah dengan diri sendiri.
Aku dalam ironi perasaanku sendiri.
Rasa syukur ini kotor...didalamnya memuat kedukaan seseorang. Atau memang begitukah cara Tuhan menuntun kita belajar? Memberi pertanda untuk membuat kita lebih bijak. Mengajar kita untuk ikhlas.
Aku seperti diberi pelajaran dengan halus, tapi sangat menikam. Mungkin aku dihukum melalui kisah orang lain.
Mungkin aku mulai diminta peka untuk membaca ’pertanda’, tentang hidup dan jalan yang harus kutapaki mulai saat ini.
Jika benar, aku bersyukur...
..karena hidup ini pinjaman.
Pattrasani
Kota bukit – Senin, 16 Mei 2011 – 21:24
Tidak ada komentar:
Posting Komentar