Minggu, 20 November 2011

Tentang kotak kecil tidurku di Roma


Kamar No. 26


01:15 am
Semarang-Kota Bukit, 13 Desember 2009


Jendelanya besar.
Dua jendela besar-besar, memungkinkan cahaya matahari menerangi dalam kamarku. Tapi, aku tak dapat memandang langit.

Jika kubuka tirai selebarnya dan kubuka pintu disampingnya, kurasakan angin dan cahaya. Seluruhnya, tapi tidak seutuhnya.
Aku bisa melihat pepohonan, ujung daunnya melambai dibalik jendela, tapi tak kurasakan segarnya.
Nyaman…, kamar kos ini benar-benar nyaman.
Tapi, seakan dipaksakan. Dibuat nyaman untuk ditinggali.. secara fisik, dalam sistem.
Dan aku tetap tak dapat memandang langit.

Aku senang.
Disini aku mendengar begitu banyak suara. Seakan tertemani.
Suara pagi, kelontangan peralatan dapur menghidupkan pagi, membangunkan matahari.
Celoteh riang gadis-gadis belia, obrolan lirih ketika rona hidup surut sesaat… betapa berwarnanya hidup mereka!
Ceburan air bak mandi, seakan rutinitas hidup ikut mengalir berkecipak bersamanya.
Juga musik.
Betapa musik mengiringi nada kisah setiap kehidupan, keseharian.
Dan, suara televisi di malam hari.
Ketika kesunyian ditandingkan…dengan hingar bingar gonggongan politik, rintihan ekonomi dan ratapan bencana alam, emosi hiperbolis film layar lebar yang direlokasi kedalam layar sempit.

Tapi, aku tetap tak dapat memandang langit.
Yang mendung…
Biru cerah…
Berawan…
Atau gelap berbintang…
Keluasan langit yang membuatku merasa hidup sebagai bagian sangat kecil keagungan ciptaan maha besar.

Dan aku kesepian.

Bukan karena tak ada teman, bukan karena tanpa suara, bukan karena tak merasa nyaman.
Karena pikiranku tidak merdeka.
Karena merasa jiwaku tidak pada tempatnya.
Karena inspirasi enggan mengunjungiku seperti biasa.
Dan aku bertanya-tanya: kenapa?

Mungkin…
Karena aku tak dapat memandang langit.

Kamar ini terlalu nyaman dengan fasilitas yang tersedia. Sehingga, aku tak merasa perlu bergerak.
Aku seperti tamu yang sekedar singgah sesaat, menginap.
Tak perlu menata kamar.
Tak perlu membeli barang-barang.
Karena aku tak merasakan ini “rumah”, yang membuatku bertahan untuk tinggal.
Aku merasa terikat untuk menerima apa adanya, pelayanan istimewa, yang membuatku merasa tak memiliki kewajiban untuk merawatnya, membentuknya menjadi seperti keinginanku. Mengasihinya seperti milikku, seperti rumahku.

Aku jadi terlalu manja.
Kenyamanan ini membuatku malas berjuang. Tak ada gejolak yang membuatku bersemangat mengejar ‘hidup’.
Padahal hidup begitu ‘menggoda’, begitu indah untuk diperjuangkan.

Aku akan mencari lagi… sebuah kamar sebagai ‘rumahku’, sebagai sahabat dimana dengannya kubebaskan pikiranku. Sebagai peraduan tempat melepas penatku, …di kota dimana energiku kucurahkan.
Aku akan pindah.
Ke tempat dimana aku dapat memandang langit.
Langit yang tinggi…, yang dengannya pikiranku takkan sepi.




Dua Hari Lagi


07:59 am
Semarang-Kota Bukit, 14 Desember 2009


Aku jatuh cinta pada tempat ini hanya dua hari sebelum kepindahanku.

Mungkin benar, bahwa cinta seringkali muncul disaat-saat tak terduga, saat-saat terakhir. Kesadaran yang terlambat menjelang perpisahan.
Kita butuh memastikan diri atau “menampar” diri sendiri bahwa perasaan itu telah datang. Dan, melihat baik-baik apa yang tersembunyi di relung hati.

Aku terjaga dengan perasaan tidak tenang.
Setelah berguling kesana-kemari, mengingkari kedatangan pagi, aku menyerah.
Kusingkap tirai, membuka semua jendela dan pintu lebar-lebar. Aroma pagi membekapku seketika, merasuk melalui pori-pori kulitku, menjelajahi setiap pembuluh darahku. Hanya untuk menyampaikan pesan kesejukan pada otakku yang masih tertidur.
Lampu-lampu putih di selasar masih menyala.
Sepetak langit mengintip dari celah kubah, langit-langit ruang terbuka antar selasar. Masih gelap. Langit muram dan sendu.

Kuambil air wudhu, menyapu lantai kamar – yang bukan kebiasaankuJ – , menghamparkan handuk mungil alas kepala, dan sembahyang.
Langit masih enggan melepaskan matahari dari peraduannya. Saat itu, perasaanku antara rindu dan gamang, walaupun tak tahu pasti apa yang kurindukan. Karena kerinduan biasanya merentangkan masa lalu. Dan peristiwa-peristiwa yang telah berlalu tampaknya tak berhubungan dengan redup pagi ini, pagiku.

Dan kudapati diriku telah duduk menongkrong diatas tangga besi loteng terbuka lantai tiga. Lebih tepat disebut loteng jemuran, karena kawat-kawat besi dan tali berseliweran merintangi jalan. Tak tahu apa yang ingin kulakukan.
Tapi, aku dapat memandang langit disini, membentang diatas kepalaku.

Langit meremang.
Beberapa larik semburat kemerahan merebak di langit timur, berhiaskan awan kelabu.
Dimana bukit-bukit berdiri pongah, dan bertonggak-tonggak menara logam terpancang angkuh. Seolah merekalah penguasa-penguasa manusia. Mandor-mandor besi.
Kabut keputihan menyelimuti pemandangan jauh.
Mengaburkan warna, serupa lukisan ‘baru’ tersapu air. Lukisan rumah-rumah yang saling merapat menghangatkan, dilatarbelakangi pegunungan dan bukit-bukit jauh.
Sebuah kota yang memiliki kisahnya sendiri.

Walaupun masih tersisa remang pelita dari malam, keheningan pagi ini terasa menyesakkan.
Dan aku tahu aku telah jatuh cinta.

Seperti tertarik pada akhir kisah sebelum menutup buku. Kekecewaan ketika kisah itu berakhir. Kemudian segera memutuskan, buku itulah yang terbaik untuk dimiliki. Walaupun, perasaan itu surut perlahan seiring berjalannya hari. Lalu, kita menemukan buku lain untuk dicintai lagi.
Selalu begitu.

Hari-hari penuh kebimbangan berlalu sudah. Saat-saat membuat keputusan seakan telah dilalui dengan kerja keras. Dan, seringkali seperti ini, pada akhir sebuah pertanyaan.
Jawaban yang sesungguhnya datang pada saat-saat terakhir, secara tak terduga.
Saat kita sudah memutuskan apa yang akan kita lakukan, dengan pertimbangan pikiran, bukan dengan hati.
Namun, jawaban yang kemudian muncul berupa ‘rasa’.
Yang paling berat bagiku adalah, ketika rasa cinta ini ditangguhkan. Seperti musim semi yang ditunda setelah musim dingin berkepanjangan.
Karena, aku mencoba menghargai proses berpikirku, pertimbangan yang berdasar logika, dan kecenderungan untuk menghindari sikap plin-plan.
Sehingga ‘rasa’ kadang terabaikan.
Sedikit sikap untuk menerima bahwa hidup ini dipenuhi dengan pilihan.
Dan pilihan akan menghadirkan konsekuensi di masa depan.

Aku cinta tempat ini.
Saat pagi sejuk…
Duduk dibalik jendela terbuka lebar, ditemani segelas kopi hangat dan sebotol air mineral…menuliskan buah pikiran.
Saat siang teduh…
Dengan buku di tangan, menelanjangi kisah-kisah.
Saat malam sunyi…
Dengan lembar-lembar kerjaan dan musik rapat di telinga.

Aku cinta tempat ini.
Dan itu takkan berubah. Sekalipun berada di tempat yang jauh.
Sebuah kenangan tidak memiliki kuasa berubah.
Betapa kenangan itu bertahan, dan kita akan mendapati diri kita tak akan pernah tua bersamanya.

Aku cinta tempat ini.
Mungkin, karena cinta tidak hadir begitu saja, dan tidak butuh alasan.
Dua hari lagi…
Sebelum aku pergi dari sini.

*******

Tidak ada komentar:

Posting Komentar