Selasa, 13 Desember 2011

Tidak Setiap Hari

bukit Banaran Ambarawa
antara sumbing-sindoro

napak tilas Kotalama Semarang
Rawa Mangrove Pesisir Utara Semarang
jalan setia ku, sisi tol menuju

Tidak Setiap Hari


Berteman sebungkus keripik tempe dan sekaleng minuman soda rasa sarsaparila, berjegang kaki, kumulai catatan ini sambil mengumpat kecil dalam hati yang setengah penuh.

Sering kugunakan uangku untuk membeli sesuatu yang tak masuk akal; kebebasan, harga diri, kebanggaan, lebih sering lagi kepuasan lahir..hedonisme.
Jalan-jalan ke mal, mungkin ini pilihan terbatas dalam waktu dan lingkungan yang terbatas untukku melepas lelah akan rutinitas harian. Dompet melempem tak peduli. Bosan, mungkin. Tapi, aku berada dalam situasi yang cukup melegakan bagi seorang perempuan seusiaku (aku masih tergolong muda :D ), lajang, hanya mengikat diri pada pekerjaan yang setengahnya tanggungjawab moral, dan setengahnya lagi idealisme. Kepentingan yang kuharuskan kupenuhi demi stabilitas mentalku :D.

Pikiranku tak serumit dulu. Tapi bukan berarti tak ada persoalan yang begitu mudah dihadapi. Ketika itu datang, timbunan emosional yang menyertainya akan tergantikan dengan timbunan kalori dalam cemilan dan minuman soda, bertebaran diatas kasurku.
Maklum, aku tinggal sendirian. Tak akan ada yang protes dengan gaya hidupku. Saat ini, aku seberuntung itu.

Obrolan pagi yang hangat dengan sepasang teman di sebuah pojok warung kopi kemarin mengulur kembali ingatan tentang tenggang usia dan mimpi-mimpi. Ketika dinamai mimpi, berarti ia belum berwujud, belum digenggam, dan seperti bayangan – ia mengikuti kemana dan bagaimana tepak-tepak langkah kita.. selayaknya mimpi tidur mengikuti napas yang teratur.
(sebentar, aku makan wafer dulu. Aku suka wafer lapis cokelat krispi karamel ini kurasa karena bungkusnya yang berwarna merah, menggoda iman. Camilan pun bisa di-judge covernya, tak peduli rasanya :D)

Setiap perempuan memiliki titik tertentu dalam hidupnya, yang kurasa akan membuatnya berhenti melangkah untuk sekedar menarik napas dan merasionalisasi diri. Sekolah, bekerja, menikah, sekolah lagi, mengurus anak.. memenuhi hidup yang lain, sebagian hal yang menjadi pilihan langkah berikutnya. Mimpinya tertunda. Kalau sudah begitu, ia menjadi wanita biasa, praktis, sederhana saja.
Membiarkan hidup datang kepadanya yang berdiam diri.
Ia tidak lelah. Hanya mengambil tawaran kehidupan untuk berjalan apa adanya, tanpa diskon ataupun bonus. Hasrat telah disembunyikan, mimpi disangkarkan sementara. Dan jika tiba saatnya nanti, di waktu yang tepat, di saat orang-orang telah memahaminya sebagai individualitas, hasrat itu akan dikeluarkan, mimpi akan digenggam lagi.. kelak, dan berharap disanggupkan seperti semua orang menyanggupkan kedatangan hujan dan matahari.

Mengingkari teriakan-teriakan penuh semangat di masa kecilku dan imajinasi-imajinasi liar masa remajaku, mungkin nanti aku akan seperti itu juga. Menerima kehidupan berjalan apa adanya, seperti malam berganti pagi. Mungkin juga tidak.
Hidupku berirama.
Aku tahu itu.
Tak ada yang tak berasa. Semua hal yang enak dan tak enak bergantian dalam lompatan nada maknanya. Ketika remaja, irama itu lincah dan riang, kadang menghentak naik-turun. Ketika dewasa, nadanya halus dan teratur, kadang datar, sesekali tinggi atau rendah, dan mudah disesuaikan iramanya.
Terkendali.
Namun, satu-dua kali irama itu berhenti.
Dan, aku merasa kosong. Kemudian, kekosongan itu akan terbayar mahal dengan aku melakukan hal-hal yang tak biasa untuk mengisinya. Aneh, atau gila, atau sakral. Tergantung perasaan.
Tidak setiap hari seperti itu.
Berjalan tanpa payung di saat hujan.. gerimis atau deras,
duduk di halte atau pinggir jembatan.. membiarkan kibas rambut bersama debu jalanan,
mengarungi aspal berkilo-kilo meter hanya untuk duduk berselonjor kaki begitu sampai di tempat yang kutuju, atau berusaha bertemu Dia melalui tangkupan telapakku dirumah-Nya dalam situasi tak terencana..
atau dengan otoritasku, mengurung diri dalam kamar gelap mengarungi bayang-bayang yang terpeta di bagian dalam kelopak mataku, berbaring sampai tertidur hingga petang. Tak tersadar esok atau malam.
Bagiku, ini bisa menaikkan level iramanya lagi. Dengan cara yang tak semua orang bisa mengerti.
Dan aku tak harus dimengerti (betul katamu, Hun..:) ).
Tak apa.
Aku hanya menuruti intuisi yang dipertandakan alam dan kehidupan kepadaku, supaya aku dapat mempertanggungjawabkannya kembali.

Ah, aku tak pandai mengungkap dalam kata.. jadi, biarlah catatan ini menjadi apa adanya.


Pattrasani
Kota bukit – Minggu, 11 Desember 2011 – 22:18

1 komentar:

  1. foto jalan tolnya yg plg bagus:P
    hedonisme taraf wajar saja kaaan..hehe, kt tak bs menolaknya:) *maksudna sama aja kyk akuu.haha!*

    BalasHapus